Full width home advertisement

Post Page Advertisement [Top]

Mari sahabat, kita duduk bersama sebari menyimak berita-berita di TV yang menceritakan keindahan nusantara dan kekayaan yang ada di dalamnya. Laut biru beserta ikannya yang beragam, hutan yang hijau dan lebat, bahkan api berwarna biru meluap-luap menantang langit di Kawah Ijen sana.
Sahabat, berita yang kita dengar saat ini dan acara-acara petualangan sangat menakjubkan itu, pastilah membuat kita kagum dan bangga menjadi bagian dari bangsa Indonesia.
Namun, acara-acara itu terlihat sangat kontradiktif dengan acara di TV lainnya. Ada orang pinggiran, pelunas hutang, bedah rumah, atau acara-acara sejenis lainnya. Mengapa begitu?
Sahabat, kau sudah tahu bukan tentang makna “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” yang sering kita dengar setiap upacara hari senin di sekolah?. Bagiku acara-acara TV yang sering kita lihat dan dengar itu, bentuk ketidakadilan sangat mencolok dan tidak sesuai  dengan cita-cita bangsa kita yang tertera dalam Pancasila.
Bagaimana tidak?. Dengan kekayaan dan keindahan yang kita punya, pemerintah sering sekali bekerja sama dengan pemodal untuk mengolah kekayaan alam kita, juga memanfaatkan keindahan alamnya untuk dijadikan tempat wisata. Lalu, apa kita pernah tahu ke mana hasil yang pemodal dan pemerintah dapatkan?
Aku harap, kau tidak menjawabnya dengan apa yang sering kau lihat lagi di TV. Pembangunan jalan tol, gedung-gedung pencakar langit, atau dijadikan kartu-kartu sakti, menurutku semua itu kurang berguna.
Kita sering diajarkan di sekolah tentang kebutuhan primer, sekunder dan tersier bukan sahabat?. Jika saja aku memiliki uang tidak begitu banyak, aku akan lebih memilih membelikannya untuk  sekarung beras, ketimbang aku gunakan untuk membeli sepeda . Karena perut paling utama walaupun sepeda banyak gunanya sahabat.
Menurutku itulah pemerintah kita saat ini, mereka lebih suka membeli sepeda ketimbang membeli beras. Orang-orang yang sangat butuh, akhirnya terpaksa untuk menahan malu, kemiskinannya dipublikasikan pada khalayak banyak oleh mereka-mereka yang haus untuk menjadi nomor Wahid di ranting penayangan TV Indonesia.
Sahabat, apa kau merasakan apa yang aku rasakan?
Aku teramat malu, kesal dan begitu sedih. Bangsa kita yang kaya raya diperlihatkan seolah begitu miskin pada dunia.

Kita tahu Indonesia begitu sederhana, tapi apakah di atas kekayaan kita harus terlihat Miskin?



Malang, 4 Agustus

3 comments:

  1. Replies
    1. Betul itu. TV kita perlu berbenah, makannya orang-orang seperti njenengan sangat diharapakan beberapa waktu yang akan datang.

      Delete
  2. Bangsa kita memang kaya kak, tapi hanya segelintir orang yang medapat melahap nikmatnya karunia Allah kepada Indonesia ini. Pada kondisi real nya masih banyak BUKAN masih banyak lagi tapi berjibun umat di tiap daerah yang masih belum menikmati TV. Bukan karena mereka tidak punya waktu, mereka banyak waktu untuk terus berjalan mengais rupiah di bawah terik maupun di kegelapan. Mungkin mereka juga tau kalau pada dasarnya tempat tinggal mereka banyak tersimpan kekayaan. Apalah daya suara kecil yang jarang di hiraukan, hanya yang memiliki modal dan kepntingan yang di utamakan. Bahkan mereka jadi korban. Masikah ideal kah TV menampilkan "aku ingin tinggal di meikarta". sedikit obrolan kecil tentang per TV an

    ReplyDelete

Bottom Ad [Post Page]