Media dan Dominasi Neoliberalisme

5:13 AM




Media dan Dominasi Neoliberalisme
“Legitimasi Orientasi Kerja Pelajar pada Iklan Pendidikan”


Masyarakat Millenial, adalah kelompok masyarakat yang tidak bisa dipisahkan dari media massa. Media jenis baru atau biasa disebut media sosial seperti instagram, facebook, youtube dan twitter, beberapa tahun belakangan ini berkembang begitu pesat. Manusia dan media sosial seakan menjadi kesatuan organik yang tidak bisa dipisahkan. Media sosial bagian dari kehidupan, kehidupan bagian dari media sosial. Begitulah kira-kira sebagai pengantar bahwa masyarakat millenial tidak bisa dipisahkan dari jeratan media massa.

          Media massa sebagai sumber informasi dan edukasi, sanggup memberikan berbagai macam hal baru pada audiensi-nya. Bahkan fenomena di masyarakat, media mampu mengarahkan dan mengubah situasi sosial dari para penggunanya. Lindsey (1994:163) mengatakan; “pada umumnya, salah satu kekuatan media massa adalah kepiawaiannya dalam mempengaruhi sikap dan perilaku orang/publik. Media cukup efektif dalam membangun kesadaran warga mengenai suatu masalah (isu). Media memiliki peran sentral dalam menyaring informasi dan membentuk opini masyarakat[1]. Bahkan para pemikir seperti Louis Wirth dan Talcott Parson menekankan pentingnya media massa sebagai alat kontrol sosial, karena mampu berkomunikasi intensif dengan publik dalam jangka waktu yang relatif singkat.

    Media yang dewasa ini cenderung berorientasi pada pasar, biasanya sengaja mengabaikan kebutuhan informasi publik. Pada dasarnya media memang dapat mengendalikan kondisi sosial, terlebih adanya dominasi pasar yang mana pemerintah tidak boleh ikut campur dalam hal ekonomi pasar global. Maka dari itu, produksi media untuk publik yang tidak berdasarkan pada aspek hukum negara, menjadi sesuatu yang sangat lumrah. Begitu pula dengan pendidikan, ekonomi global yang memaksa negara-negara dunia ke-tiga seperti Indonesia, harus mempersiapkan masyarakatnya untuk mampu bersaing dengan masyarakat dunia. Ilusi globalisasi , liberalisasi ekonomi dan adanya kebijakan otonomi bagi lembaga pendidikan, menjadikan lembaga pendidikan berafiliasi dengan pasar. Kemudian menciptakan lembaga pendidikan yang dipersiapkan dan mendorong sumber daya manusianya agar kompeten sesuai dengan kebutuhan pasar.

Industrialisasi Pendidikan Tinggi

Komersialisasi dan industrialisasi pendidikan tinggi sebenarnya bukan hal yang baru di Tanah Air. Jauh sebelum kebijakan otonomi kampus digulirkan dan dituangkan dengan peraturan pemerintah yang menetapkan universitas negeri berubah posisi menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN), komersialisasi  pendidikan tinggi sudah banyak dilakukan oleh perguruan tinggi swasta. Memang harus diakui, meski komersialisasi melanda pendidikan tinggi swasta, beberapa di antaranya menjalankan lembaga pendidikan dengan baik. Mereka mempunyai keunggulan karena didukung sumber daya yang andal, yayasan yang kukuh, serta komitmen pada pengabdian bangsa yang kuat, meski pada sektor pembiayaan mereka relatif lebih mandiri. Implikasi teoritis yang ditimbulkan, pendidikan tinggi swasta yang dikatakan unggul akan mensyaratkan biaya yang tinggi bagi mahasiswanya.

Meski pada awalnya niatan pemerintah membuat kebijakan BHMN di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) tidak hanya berupa pengurangan subsidi pendanaan, tetapi yang dirasakan oleh rakyat adalah menggelembungnya biaya pendidikan yang menjadikan PTN semakin tidak terjangkau oleh rakyat kecil. Padahal semula, PTN merupakan satu-satunya lembaga pendidikan yang dapat diandalkan oleh kelompok miskin, karena faktor pembiayaan yang relatif dapat terjangkau, namun realitas telah berbalik arah. Bayangkan jika seorang calon mahasiswa yang akan masuk saja saat ini sudah tidak berkompetisi dengan kemampuan akademik atau prestasi yang gemilang, namun mereka harus bertarung melawan kekuatan kapital. Besaran kapital lebih menjanjikan seseorang diterima di perguruan tinggi yang unggul daripada prestasi akademik yang gemilang, dengan dana 15 juta—150 juta seseorang akan lebih leluasa menentukan perguruan tinggi yang diinginkannya. Jelas sudah bahwa, nalar yang digunakan dalam PTN telah terseret pada logika industrial, di mana kekuasaan kapital menjadi amat menentukan segala sesuatu yang diinginkan seseorang. Dalam perdebatan di World Trade Organization (WTO), pendidikan menjadi bagian komoditas yang diperdagangkan, ironisnya pemerintah kita sama sekali belum siap dengan wacana yang telah marak berkembang di belahan negara-negara maju. Hal ini tercermin pada tidak adanya aturan yang jelas terkait dengan isu yang terus mengglobal dan tak bisa dibendung lagi dengan kekuatan apapun yang dimiliki negara.

Ketika perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, terseret arus besar industrialisasi, yang menjelma dalam komodifikasi pendidikan, maka mereka juga tidak luput masuk ke dalam dilema industrial. Perguruan tinggi bisa menggali pendanaan lokal dengan menjual jasa pendidikan kepada masyarakat secara cepat dan menguntungkan, namun di sisi lain di dalam perguruan tinggi itu sendiri terjadi degradasi kualitas pendidikan. Atau mempertahankan kualitas pendidikan namun kesulitan dalam pengadaan pendanaan pendidikan. Supaya pendidi1kan tinggi bisa cepat “dipasarkan”, maka mereka harus merumuskan pendidikan yang cepat saji, cepat disantap oleh konsumen, cepat berproduksi lagi, cepat menciptakan kesejahteraan.

Pendidikan, Media dan Pasar

Dominasi pasar pada hampir seluruh sektor ekonomi semakin melegitimasi terjadinya industrialisasi pada sektor-sektor yang langsung bersentuhan dengan masyarakat. Media dan pendidikan bisa dikatakan menjadi sasaran sangat dominan oleh kekuatan pasar untuk dijadikan sebagai komoditas yang diperdagangkan. Maka media yang seharusnya menjadi sumber informasi dan pendidikan seharusnya menjadi instrumen pembangunan bangsa, menjadi sesuatu yang tidak lagi linier sebagai mana hakikat tujuannya.

Adanya penyelarasan antara pasar dan sektor pendidikan, yakni pembangunan pendidikan vokasi dalam tataran perguruan tinggi, ataupun Sekolah Menegah Kejuruan (SMK), adalah salah satu pembentukan produktivitas dan mempersiapkan para pelajarnya untuk siap bekerja. Hal ini semakin selaras dengan karakter dan persoalan ekonomi masyarakat Indonesia. kemudian, adapun kerja sama antara lembaga pendidikan tersebut dengan pasar, memprakarsai diproduksinya iklan-iklan pada media massa, seperti radio, majalah, koran terlebih televisi (TV), semakin melegitimasi bahwa sektor pendidikan merupakan komoditas pasar.

Seperti iklan pada lembaga pendidikan Bina Sarana Informatika (BSI). Dengan motto “Kuliah BSI aja”, yang tidak asing masyarakat dengar pada iklan-iklan, khususnya iklan televisi. Hal ini semakin mendorong dan melegitimasi budaya masyarakat Indonesia, bahwa orientasi belajar; menempuh pendidikan tinggi muaranya adalah untuk bekerja. Seorang pelajar sejatinya adalah generasi yang bebas untuk berkarya, memberi solusi pada fenomena sosial, kemudian merdeka dalam proses pembelajaran tanpa ada dominasi orientasi kerja terus-menerus.

Berikut percakapan yang ada pada iklan BSI di Televisi;

“Wan, akademi itu D3 ya?
“iya, memang kenapa, Rif?”
“Apa sih kelebihan kuliah D3?”
“Pertama, Kuliahnya lebih cepet Cuma 3 tahun. Kedua, cari kerja lebih gampang. Ketiga, sekarang banyak perusahaan-perusahaan yang suka lulusan D3”    
                     
McQuail (2004) menyebutkan “Mass communication brings about or facilitates the existence of Mass audiences, consensus on opinions and beliefs, mass consumer behavior, mass politics and other features of the so-called mass society.” Jadi, media mampu menimbulkan adanya audiens atau konsumen dalam jumlah banyak, serta mampu menyamakan opini dan kepercayaan serta sikap dari penggunanya[2]. Adanya iklan tersebut yang terus ditangkap oleh audiens, adalah salah satu bentuk usaha korporasi mempropagandakan dan mendominasi persepsi masyarakat, bahwa orientasi belajar adalah bekerja, bukan lagi untuk ruang-ruang para pelajar untuk mengasah dan bermuhasabah diri untuk mempersiapkan diri ada di lingkungan masyarakat.





Daftar Pustaka:

[1] Riyanto Rasyid, Muhammad, 2013,  Kekerasan di Layar Kaca, Jakarta , Kompas
[2] Nayahi, Manggala, Pencitraan Perempuan oleh Media: Eksploitasi Tubuh Perempuan sebagai
Objek Kepuasan Lelaki. Jurnalperempuan.org (diakses 21 Nov 2017, 21.55)

You Might Also Like

0 komentar