Revolusi mental, Spirit 72 Tahun Merdeka.

6:53 AM



Merdeka! Spirit perjuangan merebut kemerdekaan dicerminkan dalam gelak tawa, balapan karung dan panjat pinang, menjadi agenda rutin masyarakat Indonesia setiap tahunnya. Semangat kompetitif dan tujuan untuk menjadi pemenang merupakan bentuk filosofis bahwa bangsa ini harus jadi pemenang atas bangsa-bangsa yang terus menghisap tanah air kita.

Masa silam saat bangsa Indonesia berada dalam cekikan kolonialisme, adalah sebuah catatan sejarah yang memilukan. Harta, nyawa, hilangnya keluarga juga sanak saudara dalam perang gerilya, merupakan bukti konkret dalam perjuangan demi merebut kembali hak pribumi, yakni bangsa Indonesia.

Kemudian, apa salahnya spirit perjuangan kemerdekaan hanya sebatas seremonial?

Revolusi mental
Revolusi mental adalah sebuah cita-cita besar sang proklamator Bung Karno saat menjabat sebagai presiden. Mental revolusioner dan menjadi bangsa yang benar-benar merdeka adalah mimpi besar bangsa kita sejak saat itu.

72 tahun sudah bangsa ini lepas dari penjajahan fisik bangsa kolonial, tidak ada lagi perang mengangkat senjata dan nyawa yang menjadi taruhannya. Namun nyatanya saat ini justru lebih ngeri lagi ketika bangsa kita ternyata masih dijajah dengan penjajahan gaya baru, yakni neokolonialisme yang di mana suatu bangsa dijajah dalam bidang ekonomi, politik dan juga moral tentunya.

Gagasan revolusi mental kemudian menjadi 'tagline' yang kembali diangkat oleh pemerintahan saat ini. Membangun jiwa merdeka, mengubah cara pandang, pikiran, sikap dan perilaku agar berorientasi pada kemajuan, hingga menjadi bangsa yang besar dan mampu berkompetisi dengan bangsa-lainnya.

Benar adanya jika revolusi mental digagas kembali sebagai resolusi melawan neokolonialisme
Namun yang menjadi pertanyaan, apakah gagasan tersebut digarap dengan sungguh-sungguh?

Sasaran yang tidak tepat dan gaya kepemimpinan yang otoriter menjadikan revolusi mental hanya mengajarkan bahwa bangsa ini harus menjadi bangsa yang terus bekerja, bekerja, dan bekerja.

Pembangunan fisik, seperti jalan tol, gedung-gedung, jembatan yang dianggap hasil dari sebuah kerja keras, dianggap oleh pemerintah sebagai tujuan sebuah negara untuk bisa mencapai sebuah keberhasilan yang nyata.

Hemat penulis dalam memandang revolusi mental bukanlah mengajarkan semua komponen bangsa menjadi bangsa yang terus bekerja, bekerja dan bekerja, namun lebih dari pada itu.

Pendidikan Karakter
Kondisi bangsa terlebih muda-mudi yang menjadi sasaran neokolonialisme agar menjadi generasi yang acuh akan keadaan, dan juga media massa yang menjauhkannya dari nilai-nilai moralitas, hanya mengajarkan bahwa kehidupan hanyalah untuk dinikmati oleh diri sendiri dan menggambarkan keindahan sejati.

Revolusi mental harusnya benar-benar digarap dengan realisasi yang tepat, dan generasi mudalah yang harus menjadi sasarannya.

Melalui pendidikan karakter dan jam tambahan dalam bidang pendidikan adalah solusi yang perlu dicoba, salah satunya pelajaran yang bermuatan nilai-nilai moralitas.

Kristalisasi Nilai Moralitas
Nilai-nilai moral untuk menggugah karakter bangsa harus menjadi sasaran utama untuk diinternalisasikan bagi saya. Karena dilihat dari karakter bangsa terlebih generasi tua yang memimpin saat ini berpandangan bahwa pembangunan fisik adalah hasil dari tujuan negara.

Sejatinya pembangunan fisik bahkan pembangunan moralitas (non fisik) harusnya dijadikan sebagai instrumen untuk bisa mencapai  kemerdekaan itu sendiri.

Harapannya adalah, pemerintah harus terus mendengarkan aspirasi seluruh komponen bangsa, terlebih revolusi mental yang harus benar-benar tepat pada sasarannya.

Memperingati hari di mana proklamasi dibacakan sang proklamator di Rengas Dengklok sejatinya tidak hanya seremonial saja, perlu adanya tindak lanjut yang benar-benar diseriusi, dengan harapan menjadi bangsa yang besar dan merdeka 100% bisa kita capai bersama dengan nilai moral yang baik. Moral mengandung nilai, dan nilai-nilai adalah jalan tercapainya revolusi mental itu sendiri.

You Might Also Like

0 komentar