Filantropi dan Politik Praktis

9:50 PM


  Indonesia merupakan negara dengan basis kekuatan ekonomi yang sangat kuat, seperti yang sering diagung-agungkan oleh penguasa dewasa ini. Apalagi dengan terbentuknya ASEAN yang sudah menginjak usianya yang setengah abad, ASEAN menjadi basis kekuatan ekonomi nomor enam di dunia dan nomor empat di Asia, yang kebanyakan memang berada dalam basis pariwisata di Indonesia.

Hal tersebut seharusnya berdampak pada perkembangan ekonomi di Indonesia. Namun, apakah negara ini sudah menjalankan kewajibannya untuk memberikan hak-hak rakyatnya?. Terlebih yang lebih miris lagi adalah dalam aspek pendidikan. Mencerdaskan anak bangsa dalam pembukaan undang-undang dasar 45 hanyalah menjadi angan-angan belaka.

Indonesia Basis Islam Terbesar
Mayoritas masyarakat Indonesia adalah beragama Islam dan terbesar di dunia. Dengan kondisi Indonesia saat ini sebetulnya hal ini tidak perlu dibahas karena sensitivitas yang sangat tinggi, namun sepertinya penting untuk sedikit disinggung. Sebagai negara berumat Islam yang sangat besar, penguasa dan pengusaha dalam kehidupannya tidak lebih dari hanya mengedepankan kepentingan pribadi, padahal Islam selalu mengajarkan bahwa berislam harus selalu mementingkan kepentingan umat.

Dari kondisi tersebut kita bisa berkaca kepada negara-negara maju di Eropa seperti Jerman. Pendidikan dan penyamarataan terhadap rakyat sangatlah penting, bentuk-bentuk filantropi dari berbagai pihak sebetulnya sangatlah terlihat seperti ajaran Islam.

Terlebih apa yang disampaikan oleh surat Al-Maun; bahwa tidak bisa disebut orang Islam jika tidak menolong orang yang lapar, apalagi tindakan-tindakan yang menghardik anak yatim. Hemat saya anak yatim di sini tidak hanya di titik normatif saja, namun lebih dari pada itu, seperti yatim intelektual dan kesadaran. Jerman sebagai negara yang bukan basis Islam lebih menerapkan hal-hal tersebut yang dilakukan oleh negara ataupun masyarakatnya.

Kesadaran
Saudagar atau pengusaha di Indonesia sangatlah banyak, dalam satu kota mungkin tidak bisa dihitung berapa jumlahnya. Namun, sikap dermawan seperti pengusaha dan masyarakat kebanyakan di Jerman mereka lakukan?

Tidak bisa kita pukul rata bahwa semua pengusaha di Indonesia seperti demikian. Akan tetapi kebanyakan yang tentu kita lihat pengusaha di negara kita lebih suka menggunakan hartanya untuk eksistensi dan tentunya ada beberapa kepentingan di dalamnya. Seperti pengusaha di bidang media misalnya. Mereka ikut andil dalam pembangunan fisik ataupun pembangunan pendukung lainnya seperti pendidikan ataupun ekonomi. Namun dengan embel-embel kepentingan dan ambisi politik yang sangat besar.

Filantropi yang Dipolitisasi
Dalam hal ini bukan berarti bahwa saya lebih baik dari para pengusaha itu. Tunamartabat dan tunaadab yang terjadi dewasa ini sangat menjadi kebetulan yang ironi. Kekayaan justru dijadikan sebagai kesempatan mengedepankan ambisinya untuk bisa mendapatkan kedudukan strategis dalam negara. Dalam pengalaman empirik, pengusaha yang mendapatkan kedudukan strategis dalam pemerintah akan lebih masif dalam memanfaatkan kesempatan yang ada. seperti dalam artikel yang sebelumnya saya tuliskan, “pengusaha yang mendapatkan kesempatan berkedudukan dalam pemerintahan akan memanfaatkan proyek-proyek pemerintah untuk diberikan kepada perusahaannya”  dan masih banyak lagi yang lainnya.

Buya Syafi’i Ma’arif dalam opininya di harian kompas (8/7) mengatakan bahwa kebaikan janganlah dipolitisasi. Politik praktis di  Indonesia saat ini memang menjadi rahasia umum, bahkan selain kepentingan pribadi dalam sikap politiknya, perorangan atau pengusaha yang terjun dalam politik juga memiliki kepentingan untuk kelompoknya.

Media merupakan alat propaganda yang paling efektif saat ini, maka banyak pengusaha media yang terjun ke politik menjadi kesempatan yang sangat menguntungkan. Propaganda dan framing citra baik dengan melakukan sikap-sikap filsantropi untuk eksistensi terus menjadi santapan masyarakat pada umumnya.

Sikap demikian bukanlah sikap yang etis untuk dilakukan, politik praktis demi eksistensi dan mendapatkan citra baik adalah sikap membunuh yang sangat nyata. Kita sebagai bangsa yang besar mesti belajar banyak kepada bangsa lain, terlebih para pengusaha dan penguasa untuk terus menjadi dermawan yang tidak pamrih kepada bangsa ini. Jika kebajikan diberikan secara masif, masa depan bangsa ini akan cerah, begitulah kiranya untuk bisa menjadi bangsa yang besar.







Malang, 8 Agustus

sumber gambar : http://assets-a1.kompasiana.com/statics/crawl/556261050423bdf7488b4567.jpeg?t=o&v=800

You Might Also Like

0 komentar